putubayong.blogspot.com

Senin, 18 November 2013

LAPORAN SIFAT MENGEMBANG DAN MENGERUT



LAPORAN SIFAT MENGEMBANG DAN MENGERUT


Disusun Oleh :
                                 NAMA               : PUTU EKA IRAWAN
NIM                   : G11113515
KELOMPOK    :  15
ASISTEN          : SAHNUR

LABORATORIUM FISIKA TANAH
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

I.  PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu sifat fisik tanah adalah mengembang dan mengerut. Sifat mengembang ditandai dengan terisinya semua ruang pori-pori tanah baik pori makro maupun pori mikro oleh molekul-molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan basah. Sedangkan sifat mengerut tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah yang ditandai dengan semakin mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut.
            Sifat mengembang dan mengerut adalah masuk atau keluarnya air ke atau dari antara lempeng–lempeng liat kristal tipe 2 : 1 menyebabkan terlihatnya sifat mengembang dalam keadaan basah dan mengerut dalam keadaan kering.
            Pengembangan terjadi karena beberapa sebab, sebagian pengembangan terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat, yang menyebabkan pengembangan dalam kristal. Akan tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid–koloid dan ion–ion yang teradsorbsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki pori tanah.
            Retakan–retakan tanah dapat memperbaiki aerasi tanah pada bagian lebih dalam. Namun, retakan–retakan yang terlalu lebar dapat menyebabkan putusnya akar–akar tanaman. Pengembangan dan pengerutan yang tidak sama dapat menyebabkan retaknya pondasi gedung-gedung, sedangkan jalan yang diperkeras menjadi bergelombang. Bukan hanya demikian tetapi pengembangan dan pengerutan juga terjadi dilokasi pengambilan profil tanah. Dapat dilihat dan dirasakan sendiri waktu berjalan dan menginjak tanah yang tergenang air, sangat jelas bahwa tanah tersebut mengalami pengembangan karena saat diinjak tanah ini mengalami perubahan perubahan morfologi dari yang biasa saja menjadi bentuk menyerupai sesuatu yang menekannya.
            Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilaksanakan praktikum tentang sifat mengembang dan mengerut pada tanah guna mengetahui tingkat pengembangan dan pengerutan tanah agar dapat diolah dengan baik.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengembangan dan pengerutan tanah serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
            Kegunaannya adalah sebagai bahan informasi untuk mengetahui cara pengolahan pada tanah-tanah yang memiliki sifat pengembangan dan pengerutan.












II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sifat Mengembang dan Mengerut
Mengembang dan mengerut merupakan sifat fisika tanah yang mempunyai sifat koresifitas yang mengakibatkan tanah mengalami kerusakan struktur. Mengembang dan mengerut merupakan ukuran pertambahan volume tanah. Tanah dapat berkembang kurang lebih 3% dalam keadaan tanah kering. Tanah memiliki potensi mengembang dan mengerut low serta potensi mengembang mengerut moderate, memiliki perkembangan volume 3% - 6% dan dalam keadaan hing pada perkembangan volume lebih dari 6% (Hausenbuiller, 1982).
            Pengembangan tanah adalah penjenuhan air sehingga menutupi celah–celah retakan tanah yang diakibatkan oleh pengerutan. Tanah yang banyak mengandung mineral liat memperlihatkan sifat mengembang dan mengerut. Kation–kation dan molekul–molekul air sudah masuk antara unit kristal mineral sehingga mineral akan mengembang saat basa dan mengerut saat kering, karena banyaknya air yang hilang pada tanah tersebut (Hardjowigeno, 2010).
            Pengembangan juga terjadi karena beberapa sebab, sebagian pengembangan terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat, yang menyebabkan pengembangan dalam kristal. Akan tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid-koloid dan ion-ion yang terabsorsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki pori tanah (Anonim1, 2006).
            Pengerutan biasanya terjadi pada musim kemarau atau musim kering. Pengerutan adalah keadaan dimana tanah mengalami retakan-retakan yang disebabkan oleh karena ruang atau pori tanah tersebut tidak terisi oleh air yang cukup. Pengerutan pada tanah akan mengakibatkan terjadinya pematahan pada akar tanaman (Hardjowigeno, 2003).
            Mineral primer adalah mineral asli yang terdapat dalam batuan yang melapuk yang terdiri dari fraksi-fraksi pasir dan debu. Mineral sekunder adalah mineral primer yangmenghasilkan mineral baru yang esensial untuk perkembangan dan penyuburan yang umunya terdapat dalam fraksi liat yang sering ditemukan dalam tanah antara lain kaolinit, haloisit, montmorillonit, gibsit (Al Oksida), Fe Oksida dan lain-lain. Mineral liat sekunder besar pengaruhnya terhadap sifat-sifat fisik tanah seperti kapasitas tukar kation, daya mengembang dan mengerut tanah dan lain-lain (Hardjowigeno, 2010).
            Beberapa jenis tanah mempunyai sifat mengembang dan mengerut sehingga mengalami pecahan-pecahan pada musim kering. Sifat mengembang dan mengerut tanah disebabkan oleh kandungan mineral dari monmorilonit yang tinggi dan rendah. Besarnya pengembangan dan pengerutan pada tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Co efficient of Linear Extensibility) atau PVC (Potential Volume Change = Swell Index = index pengembangan). Istilah COLE banyak digunakan dalam bidang ilmu tanah (pedology) sedang PVC digunakan dalam  bidang engineering (Hardjowigeno, 2010).




2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
1.    Kandungan liat
Kandungan liat sangat berpengaruh karena permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya. (Hardjowigeno,1998 ). 
            Sifat mengembang dan mengerut tanah disebabkan oleh kandungan liat mentrollnit yang tinggi. Apabila tanahnya memiliki kandungan liat yang tinggi maka pertikel liatnya akan mudah mengalami perluasan akibatnya tanah ini mengembang pada keaadanlembab dan mengerut pada keadaan kering. Tanah mengembang pada saat basah dan tanah mengerutpada saat kering. Akibatnya pada saat musim kering tanah menjadi pecah-pecahkalau basah tanah mengembang dan menjadi lengket (Hardjowigeno,1998 ). 
2.    Kadar air
Apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi pengembangan pada tanah dan sebaliknya.Sifat mengembang dan mengerut disebabkan oleh kandungan air relatif, terutama yang berada di satuan-satuan struktural misel. Jika kisi habrul lempung mengembang akan terjadi pengerutan pada waktu terjadi pembasahan oleh air. Setelah mengalami kekeringan sesuatu tanah yang cukup lama akan mengalami retak yang cukup dalam, sehingga hujan pertama mudah masuk ke dalam tanah (Buckman dan Brady 1982).


3.    Penetrasi air ke dalam lapisan liat
Pengembangan juga terjadi karena beberapa sebab, sebagian pengembangan terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat, sehingga akan menyebabkan pengembangan dalam kristal. Akan tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid-koloid dan ion-ion yang terabsorsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki pori tanah (Anonim1, 2006).
















III.  METODOLOGI
3.1. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan pada Rabu, 14 November 2013 pukul 15.00 WITA sampai selesai.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
1.    Cawan petri
2.    Gelas ukur
3.    Oven
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
1.    Sampel tanah kering
2.    Air
3.3. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini yaitu:
3.3.1.      Pengerutan tanah
1.        Memasukkan tanah pada cawan Petridis hingga hampir penuh.
2.        Menambahkan air sehingga menimbulkan sedikit genangan, kemudian di ovenkan selama 1 x 24 jam ( 1 hari).
3.        Mengeluarkan cawan petridis dan tanah dari oven kemudian dinginkan.
4.        Peningkatan pengerutan dapat dinyatakan dengan memperkirakan luas retakan- retakan dengan luas  permukaan tanah semula dalam keadaan basah. Retakan–retakan dibagi dalam segmen–segmen yang diukur panjang dan lebarnya.
5.        Hitunglah pesentase pengerutan tanah dengan rumus :
Luas permukaan tanah     =  = .... cm2
Persentase pengerutan tanah        =
3.3.2.      Pengembangan Tanah
Adapun prosedur kerja dari pengembangan tanah yaitu :
1.        Memasukkan tanah kering (< 2 mm) ke dalam gelas ukur 50 ml hingga volume tanah 15 ml . Gelas ukur ini dihentak-hentakkan beberapa kali untuk memadatkan tanah.
2.        Mengeluarkan tanah dari gelas ukur tersebut ke wadah lain.
3.        Memasukkan air sebanyak 25 ml ke dalam gelas ukur, kemudian masukkan lagi tanah sedikit demi sedikit hingga semua masuk ke dalam air. Air di dalam gelas ditambah bila ada bagian tanah yang belum basah.
4.        Membiarkan tanah membasah selama sekitar 30 menit, kemudian gelas ukur dihentak-hentakkan supaya tanah lebih padat.
5.        Membaca volume tanah yang telah basa tersebut. Menghitung besarnya persentase pertambahan volume tanah yang telah basah dibandingkan dengan yang kering.
6.        Hitunglah persentase pengembangan tanah dengan rumus :
% pengembangan             =



IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1.  Hasil
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 9.  Hasil Pengamatan Luas Retakan Tanah
Segmen No.
Sampel Tanah No.1, dst
Panjang (cm)
Lebar (cm)
Luas (cm2)
1
10,2
0,3
3,06
2
3,2
0,1
0,32
3
1,6
0,1
0,16
Total luas retakan : 3,54 cm2
Sumber : Data primer setelah diolah 2013.
Persentase pengerutan tanah = 7,8%
Tabel 10.  Hasil Pengamatan Pengembangan Tanah
No
Sampel Tanah
Volume Tanah Kering (ml)
Volume Tanah Basah (ml)
Persentase Pengembangan
1
Lapisan I
15
16
6,7%
Sumber : Data primer setelah diolah 2013.






Hasil perhitunga
-       Pengembangan
Volume tanah kering  = 15 ml
Volume tanah basah   = 16 ml
% pengembangan       =
                                    =
                                    =
-       Pengerutan
Diameter (d)    = 7,9 cm         
Jari-jari (r)        = 3,8 cm
Total luas retakan   = seg.1 + seg.2 + seg.3
                               = 3,06 + 0,32 + 0,16
                               = 3,54 cm2
Luas permukaan tanah       =
                                           = 3,14 x (3,8)2
                                           = 45,34
Persentase pengerutan tanah   =
                                                =
                                                =


1.2  Pembahasan
Berdasarkan tabel di atas persentase pengembangan tanah pada lapisan I adalah 6,7% dan pengerutan sebesar 7,8%. Pada titik ini presentasi pengerutan lebih tinggi bila dibandingkan dengan preasentasi pengembangan. Hal ini terjadi karena pada tanah memiliki kandungan kadar air yang lebih rendah sebab kandungan liatnya pula yang rendah sehingga kemampuan tanah dalam menahan air sangat rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Buckman dan Brady (1992), bahwa tanah yang memiliki kandungan liat yang rendah akan mengalami pengerutan yang tinggi sehingga sulit untuk menahan air mengakibatkan pori tanah mengecil.
            Sampel tersebut memiliki persentase pengerutan sebesar 7,8%. Hal ini disebabkan oleh kandungan liat yang dimiliki sehingga saat tanah dalam keadaan kering, tanah mudah retak. Hal ini sesuai dengan pendapat Asmin (2011), bahwa tanah yang tinggi kandungan liatnya mempunyai daya mengembang dan mengerut yang tinggi, sehingga mudah lembek ketika basah dan mudah keras ketika kering. Kondisi tanah seperti ini dapat mengganggu perkembangan akar tanaman.
            Menurut Munir (1996), faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mengembang dan mengerut tanah yaitu kadar air dalam tanah, pori tanah, serta kandungan mineral liat. Ketiga faktor ini sangat berpengaruh disebabkan karena apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi pengembangan pada tanah dan sebaliknya. Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya.





















V.  PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.        Tanah pada lapisan I tersebut memiliki persentase pengembangan sebesar 6,7% dan pengerutan sebesa 7,8%.
2.        Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan dan pengerutan tanah adalah kandungan liat, kadar air, penetrasi air ke dalam lapisan liat,
5.2.  Saran
Setelah mempelajari pentingnya mengetahui sifat pengembangan dan pengerutan tanah, maka dalam memilih tanah yang cocok untuk dijadikan lahan pertanian perlu memperhatikan persentase pengembangan dan pengerutannya karena hal tersebut akan mempengaruhi kualitas suatu lahan sebagai media tumbuh tanaman.










DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2006. Tanah-Tanah Utama Indonesia. http://tanah.wordpress.com           diakses pada 2 November 2013 pukul 22.40 WITA.
Buckman dan Brady., 1982. Ilmu Tanah. PT Bharata karya aksara: Jakarta
Hanafiah, KA. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawali Press: Jakarta.
Hardjowigeno, Sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo: Jakarta.
Hausenbuiller,R.L,1982.Soil Science.WM.C.Brown Company.Iown.

LAPORAN REAKSI TANAH



LAPORAN REAKSI TANAH ( Ph TANAH)

Disusun Oleh :
NAMA              : PUTU EKA IRAWAN
NIM                   : G111 13 513
KELOMPOK   : 15
ASISTEN          : SAHNUR

LABORATORIUM FISIKA TANAH
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013


I.  PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Reaksi tanah merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan reaksi  asam atau basa dalam tanah. Sejumlah proses dalam tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah dan biokimia tanah yang berlangsung spesifik.  
            Keasaman tanah dapat ditentukan oleh dinamika H+ di dalam tanah, ion H+ yang terdapat dalam tanah (suspensi tanah) yang berada dalam keseimbangan ion H+ yang terjerap. Kemasaman dikenal ada dua yaitu kemasaman aktif dan kemasaman potensial. Kemasaman aktif disebabkan oleh H+ dalam larutan, sedangkan kemasaman potensial disebabkan oleh ion H+ dan Al yang terjerap pada permukaan kompleks jerapan.
            Pentingnya pH adalah untuk menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman. Ditinjau dari berbagai segi, pada pH dibawah 7 merupakan tanah yang sedangkan pada tanah alkalis pH-nya berkisar antara 8-14. tanah yang mempunyai pH antara 6-7 merupakan pH yang terbaik (netral), tanaman yang berada pada sekitar pH netral dapat tumbuh baik, disebakan karena pH tersebut kebanyakan unsur hara larut dalam air. Oleh karena itu, penentuan pH tanah adalah salah satu pengujian yang paling penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis masalah pertumbuhan tanaman.
             Berdasarkan uraian di atas, maka perlu melakukan percobaan reaksi tanah (pH) untuk mengetahui jenis reaksi dan nilai pH tanah Alfisol pada berbagai lapisan tanah.

1.2. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan diadakannya praktikum ini yaitu untuk menentukan pH tanah dan faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi tanah.
            Adapun kegunaan dari pengamatan reaksi tanah ini yaitu sebagai bahan informasi untuk mahasiswa tentang reaksi tanah juga sebagai bahan pembelajaran diperkuliahan.
















II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Pengertian pH Tanah
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+ di dalam tanah). Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dari ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah yang masam jumlah ion H+ lebih tinggi dari pada OH- , sedangkan pada tanah yang alkalis kandungan OH- lebih banyak dari pada H+. Bila jumlah  kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH= 7 (Hardjowigeno, 2010).
       Nilai pH berkisar dari 0 - 14 dengan pH 7 disebut netral sedang pH kurang dari 7 disebut alkalis. Besar kisaran nilai pH tersebut didasarkan atas besarnya konstanta disosiasi air murni (Hardjowigeno, 2010).
       Walaupun demikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0 - 9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan pH 4,0 - 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 - 6,5 sering dikatakan telah cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam (Hardjowigeno, 2010).
       Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah yang sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering (arid) kadang-kadang pH tanahnya sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena padakeadaan tersebut banyak mengandung garam Na (Hardjowigeno, 2010).
       Tanah dapat diubah pH-nya jika terlalu masam ataupun sangat alkalis. Untuk yang masam dapat dinaikkan pH-nya dengan penambahan kapur ke dalam tanah, sedangkan untuk tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pH-nya dengan penambahan belerang (Hardjowigeno, 2010).
       Menurut Harjdowigeno (2010), alasan pentingnya mengetahui pH tanah yaitu
1.        Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman. Pada umumya unsur hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al, sedang pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena difiksasi oleh Ca.
2.        Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Pada tanah-tanah masam banyak ditemukan ion-ion Al di dalam tanah, kecuali memfiksasi unsur P merupakan racun bagi tanaman.
     Pada tanah-tanah rawa pH yang terlalu rendah (sangat masam) menunjukkan kandungan sulfat tinggi, yang juga merupakan racun bagi tanaman.
     Disamping itu pada rekasi tanah yang masam, unsur-unsur mikro juga menjadi mudah larut, sehingga ditemukakan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga menjadi racun bila terdapat dalam jumlah yang terlalu besar. Termasuk unsur mikro dalam jenis ini adalah Fe, Mn, Zn, Cu, Co. Unsur mikro yang lain yaitu Mo dapat menjadi racun kalau terlalu alkalis. Disamping itu, tanah yang terlalu alkalis juga sering mengandung garam yang terlalu tinggi sehingga menjadi racun bagi tanaman (Hardjowigeno, 2010).
3.      Mempengaruhi perkembangan mikroorganisme. Bakteri berkembang baik pada pH 5,5 atau lebih sedang pada pH kurang dari 5,5 perkembangannya sangat terhambat. Jamur dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah. Pada pH lebih dar 5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri. Bakteri pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang dengan baik pada pH lebih dari 5,5 (Hardjowigeno, 2010).
1.2. Permasalahan Tanah dan Hubungannya dengan pH
Kondisi pH tanah mempengaruhi serapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman melalui pengaruhnya terhadap ketersediaan unsur hara dan adanya unsur-unsur yang beracun. Beberapa unsur hara fungsional seperti besi, mangan, dan seng berkurang apabila pH dinaikan dari 5.0 menjadi 7.5 atau 8.0. Molibdenium berkurang ketersediannya bila pH diturunkan. Pada pH kurang dari 5.0 besi dan mangan menjadi larut dalam jumlah cukup banyak yang dapat menyebabkan tanaman keracunan. Pada pH yang sangat tinggi, ion bikarbonat akan dijumpai dalam jumlah banyak sehingga dapat menggangu serapan normal unsur lain dan sangat merugikan pertumbuhan tanaman (Soepardi 1983). Kondisi pH tanah mempengaruhi serapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman melalui pengaruhnya terhadap ketersediaan unsur hara dan adanya unsur-unsur yang beracun. Beberapa unsur hara fungsional seperti besi, mangan, dan seng berkurang apabila pH dinaikan dari 5.0 menjadi 7.5 atau 8.0. Molibdenium berkurang ketersediannya bila pH diturunkan. Pada pH kurang dari 5.0 besi dan mangan menjadi larut dalam jumlah cukup banyak yang dapat menyebabkan tanaman keracunan. Pada pH yang sangat tinggi, ion bikarbonat akan dijumpai dalam jumlah banyak sehingga dapat menggangu serapan normal unsur lain dan sangat merugikan pertumbuhan tanaman (Soepardi 1983).
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit. Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga 7,0 (Anonim 2011).
Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai. Sebagai contoh, alfalfa tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 6,2 hingga 7,8; sementara itu kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6,0 hingga 7,0. Kacang tanah tumbh dengan baik pada tanah dengan pH 5,3 hingga 6,6. Banyak tanaman termasuk sayuran, bunga dan semak-semak serta buah-buahan tergantung dengan pH dan ketersediaan tanah yang mengandung nutrisi yang cukup. Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut (Anonim 2011).
2.3  Faktor penyebab kemasaman tanah
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kemasaman tanah yaitu sebagai berikut Hakim, dkk, (2005) :
1.             Kejenuhan Basa
Kejenuhan basa adalah perbandingan antara kation basa dengan jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada koloid tanah.  Kejenuhan basa juga mencerminkan perbandingan kation basa dengan kation hidrogen dan almunium. Berarti semakin kecil kejenuhan basa, semakin masam pula reaksi tanah tersebut atau pH-nya semakin rendah. Kejenuhan basa 100% mencerminkan pH tanah yang netral, kurang dari itu mengarah ke pH tanah masam, sedangkan lebih dari itu mengarah ke basa.
2.             Sifat Misel (Koloid)
Sifat Misel yang berbeda-beda dalam mendisosiasikan ion H+ terjerap menyebabkan pH tanah berbeda pada koloid yang berbeda, walaupun kejenuhan basanya sama. Koloid organik mudah mendisosiasikan ion H+  ke dalam larutan.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi  tingkat kemasaman tanah yaitu pencucian basa, mineralisasi atau dekomposisi bahan organik, respirasi akar yang menghasilkan CO2 dan pemberian pupuk yang bereaksi masam dalam tanah (Pairunan, dkk, 2005).


III. METODOLOGI
1.1.       Waktu dan Tempat
Praktikum Reaksi Tanah dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 23 April 2009, pada pukul 13.30-16.00 WITA di Laboratorium Kimia Tanah.
1.2.       Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum Reaksi Tanah  adalah timbangan, pH meter, dan tempat roll film. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan pada praktikum Reaksi Tanah adalah sampel tanah terganggu lapisan I, II, dan  III, aquades, tissu rol, kertas label.
1.3.       Prosedur Kerja
Langkah-langkah yang dilakukan dalam percobaan Reaksi Tanah adalah dengan metode elektrometris, sebagai berikut:
1.      Memasukkan 10 gram tanah halus ke dalam tabung reaksi atau tempat roll film dan menambahkan air suling 10 ml (rasio 1 : 2)
2.      Mengocok selama 30 jam dengan digoyang-goyangkan, kemudian mendiamkan selama 1 menit.
3.      Mengukur pH dengan pH meter.





IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
1.4.       Hasil Pengamatan
Adapun hasil yang diperoleh berdasarkan praktikum Bulk Density adalah sebagai berikut.
Tabel 6. Hasil Praktikum Reaksi Tanah
Lapisan Tanah
pH tanah
Lapisan I
3,20
Lapisan II
3,14
Lapisan III
3,25
Sumber : Data Primer 2011
4.2. Pembahasan
            Berdasarkan hasil pengamatan di atas, maka lapisan I pH-nya sebesar 3,20. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis.
Lapisan II pH-nya sebesar 3,14. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis. Hal ini disebabkan semakin kecil kejenuhan basa, semakin masam pula reaksi tanah tersebut atau pH-nya semakin rendah. Kejenuhan basa 100% mencerminkan pH tanah yang netral, kurang dari itu mengarah ke pH tanah masam, sedangkan lebih dari itu mengarah ke basa (Hakim dkk,1986)
Lapisan III pH-nya sebesar 3,25. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis.
         Faktor-faktor lain yang mempengaruhi  tingkat kemasaman tanah yaitu pencucian basa, mineralisasi atau dekomposisi bahan organik, respirasi akar yang menghasilkan CO2 dan pemberian pupuk yang bereaksi masam dalam tanah (Pairunan, dkk, 1985).











V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh pada praktikum penetapan nilai reaksi tanah (pH), maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1.      Lapisan I memiliki pH sebesar 3,20 dan bersifat sangat masam.
2.      Lapisan II memiliki pH sebesar 3,14 dan bersifat sangat masam.
3.      Lapisan III memiliki pH sebesar 3,25 dan bersifat sangat masam.
4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi tanah yaitu kejenuhan basa, macam kation terjerap, curah hujan, pemupukan, perbandingan air dengan tanah, kandungan garam-garam dalam larutan tanah, dan keseimbangan CO2 udara dan CO2 tanah
5.2  Saran
Apabila tanah sangat masam/ agak masam / masam, maka sebaiknya ditambahkan dengan kapur agar tanah menjadi netral dan apabila tanah agak alkalis / alkalis, maka sebaiknya ditambahkan dengan belerang / sulfur, agar tanah menjadi netral, karena tanaman dapat tumbuh dengan baik apabila pH suatu tanah netral.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jurusan Ilmu Tanah,            Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Anonim 2011. http://coridamayanti.blogspot.com//ddit-laporan-3-ph-tanah.html.    Diakses pada tanggal 7 November 2011, Makassar

Baver, L.D. 1961. Soil Physics. John Wiley & Sons Inc. New york.

Darmawijaya, M. Isa. 1990. Klasifikasi Tana. Universitas Gadjah Mada. Press.       Yogyakarta.

Foth, Hendry D., 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga, Gajah Mada University           Press, Yogyakarta.

Hakim, N., M. Yusuf Nyakpa, A. M. Lubis, Sutopo Ghani Nugroho, M. Amin Diha,         Go Ban Hong, H. H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas   Lampung, Lampung.

Hardjowigeno, H. Sarwono., 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika           Pressindo, Jakarta.

Henry. 1988. Fundamentalis of Soil Science. John Wiley & Sons. Inc. New york.

Kartasapoetra. 1987. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian     Universitas Padjajaran. Bandung.

Pairunan, Anna K., J. L. Nanere, Arifin, Solo S. R. Samosir, Romualdus Tangkaisari,         J. R. Lalopua, Bachrul Ibrahim, Hariadji Asmadi, 1985. Dasar-Dasar Ilmu   Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur



apakah pendapat anda tentang blog ini?

RAMALAN CUACA

pendaftaran FMA

Powered byEMF HTML Contact Form

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Recent Posts

Social Media Sharing by CB Bloggerz

facebook

twitter