putubayong.blogspot.com

Sabtu, 06 September 2014

PELUANG USAHA YANG MENJANJIKAN DI BIDANG PERTANIAN

Sekarang siapa sih yang tidak kenal JAHE. Tanaman yang sangat populer di Indonesia, sekoteng, bandrek dan wedang adalah beberapa produk minuman yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Hampir setiap malam, terutama di daerah perkotaan, kita sering disapa oleh para penjual keliling minuman tersebut. Atau sekarang coba tengok kalau kita pergi ke mini market atau swalayan, selalu ada produk-produk dengan bahan dasar jahe yang mejeng rapi di rak-rak etalase. Tidak secara tiba-tiba pamor jahe ini begitu tenar, namun tanaman ini sudah sekian lama diketahui manfaatnya oleh orang tua kita sejak dulu. Pemakaiannya begitu meluas karena ternyata manfaatnya sangat banyak. Tidak hanya dipakai sebagai salah satu bumbu pelengkap masakan saja, namun juga ternyata banyak pula digunakan untuk tujuan di bidang kesehatan, terutama untuk jenis Jahe Merah. 

Beberapa manfaat dari jahe di bidang kesehatan tersebut dapat saya sebutkan sebagai berikut : 
• Sebagai obat herbal 
• Sebagai antioksidan, antiinflamasi, analgesik, antikarsinogenik (anti kanker), dan kardiotonik (penguat fungsi jantung) 
• Pencegah Obesitas 
• Anti diare dan mual 
• Anti hiperlipidemia (lemak berlebih) 
• Melancarkan aliran darah 
• Obat untuk kolesterol 

Apabila anda masih kurang percaya mengenai manfaat jahe yang saya sebutkan tersebut, anda boleh lihat deh di hasil penelitian yang dikeluarkan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian DI SINI atau anda boleh lihat juga di DOWNLOAD AREA. Bagi anda yang belum mengetahui mengenai sejarah, asal muasal dan klasifikasinya, serta ingin kenal lebih dekat dengan Jahe, saya sudah siapkan dari Wikipedia DI SINI atau di DOWNLOAD AREA. Setelah anda baca mengenai manfaat jahe, jenis dan klasifikasinya, terutama Jahe Merah, mari kita lanjutkan ke analisa peluang usaha. Terdapat beberapa faktor, menurut saya, yang perlu kita perhitungkan, mari kita mulai (kalau ada yang kurang, tambah sendiri ya…hehehe) 

Faktor yang Memungkinkan Budidaya Jahe Merah Menguntungkan Mari kita urai beberapa yang mungkin akan menjadi faktor menguntungkan atau mendukung keberhasilan budidaya jahe merah 
1. Permintaan terhadap Jahe Merah masih cukup tinggi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri. Silahkan anda browsing dan searching mengenai permintaan produk agro ini. 
2. Tanaman Jahe bisa tumbuh pada ketinggian 0 – 2.000 m.dpl. sehingga cakupan tempat budidaya relatif luas. 
3. Teknis budidaya relatif mudah, dengan menggunakan media tanam di dalam polybag ataupun karung bisa dilakukan. Dengan demikian lahan yang dibutuhkan tidak perlu luas, kita bisa memanfaatkan lahan di pekarangan atau halaman rumah yang tidak produktif. Cara atau teknik budidaya pun sudah banyak tersedia dan banyak dipraktekkan. Anda pun dapat melakukan budidaya jahe merah sistem organik dengan mudah. 
4. Harga jual jahe merah menurut perkembangan pasar saat ini memang tidak setinggi seperti tahun-tahun sebelumnya, namun saya lihat masih memiliki nilai ekonomis. Apalagi bila dilakukan pengolahan jahe menjadi produk turunan, misalnya serbuk jahe dan gula, harganya tentu akan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding harga jahe mentah . 
5. Belum begitu banyak yang melakukan budidaya jahe, meskipun di beberapa daerah sudah menjadi komoditi andalan, tengok misalnya di beberapa daerah di Sukabumi, Tasikmalaya atau di daerah Brebes, tanaman ini menjadi salah satu komoditi andalan daerah. 
6. Biaya yang harus dikeluarkan relatif rendah. Kita hanya perlu menyediakan polybag atau karung, tanah, pupuk, dan bibit serta biaya pemeliharaan yang tidak begitu besar, apalagi bila dilakukan oleh kita sendiri. 

Hambatan Budidaya Jahe Merah 
1. Kualitas jahe harus benar-benar diperhatikan karena hal ini akan menentukan harga jual. Sekedar info, kualitas jahe Indonesia masih di bawah negara lain (ga percaya ? browsing dong…). Bagaimana cara mengatasinya ? Pola budidaya organik yang telah dilakukan oleh beberapa mitra HCS terbukti dapat menanggulangi masalah kualitas ini. Jadi tidak perlu khawatir, kita bisa sharing koq… 
2. Serangan hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit ini akan berhubungan dengan kualitas dan jumlah hasil budidaya. Namun masalah penyakit dapat ditekan dan dicegah apabila teknis budidaya kita mengikuti pola yang benar. 
3. Penjualan hasil budidaya. Hal ini memang menjadi masalah klasik di Indonesia, hampir untuk semua komoditi. 

Belum ada regulasi yang jelas mengenai sistem penjualan maupun patokan harga. Tapi ga usah pusing, mengenai penjualan komoditas jahe ini, mungkin anda bisa menjual langsung ke distributor, pasar, industri jamu atau minuman, atau anda menjalin kerja sama dengan kelompok tani jahe misalnya di Sukabumi, Tasikmalaya maupun Brebes yang sudah terlebih dahulu mapan untuk ikut nebeng jual. Yang penting, kita harus usahakan mendapatkan harga beli yang layak dan masih mempunyai nilai ekonomis sedang-tinggi. Ironis memang, sebagai contoh, minggu kemarin saya pergi belanja ke sebuah swalayan terkenal, iseng-iseng lihat harga jahe gajah yang dijual Rp. 19.850,-/kg, kemudian iseng juga nelpon ke ‘pengepul jahe’ yang ternyata menerima jahe gajah dengan harga beli Rp. 8.000,- saja……hadduh Teknis Budidaya Jahe Merah Setelah menimbang mengenai peluang dan kemungkinan hambatannya, mari kita pelajari teknis budidaya tanaman yang satu ini agar kita sama-sama mendapat gambaran umum yang lebih lengkap. Banyak pola tanam yang bisa kita terapkan, di sini saya akan coba bahas teknis budidaya organik jahe merah menggunakan pola HCS. 

Namun sebelumnya coba kita pelajari secara umum karakteristik tanaman jahe berikut ini : Syarat tumbuh : 
• Iklim : Tanaman jahe memerlukan curah hujan antara 2.500-4.000 mm/thn • Pada umur 2,5 – 7 bulan perlu cukup sinar matahari. Artinya, tanaman ini harus berada di tempat terbuka agar cukup sinar matahari sepanjang hari 
• Suhu udara yang optimal adalah 20 – 35 derajat Celcius 
• Secara umum dapat tumbuh pada keasaman tanah dengan pH 4.3 – 7.4, kecuali untuk jenis Jahe Gajah pada pH 6.8 – 7.0 
• Tumbuh baik pada tanah subur dan gembur, serta banyak mengandung humus Persiapan Bibit atau Benih Jahe Merah Kita dapat melakukan penanaman dari bibit jahe merah yang sudah siap tanam atau sudah bertunas antara 5-10 cm. 

Namun apabila tidak tersedia, kita dapat menyemaikan bibit dari bentuk rimpang. Apabila menyemaikan sendiri, perhatikan kualitas rimpang yang akan disemaikan. rimpang untuk disemaikan haruslah berasal dari induk yang cukup tua umurnya, permukaan rimpang mengkilat dan tidak cacat serta tidak terlihat ada bekas diserang hama. 
1. Teknik Persiapan Rimpang Rimpang yang akan disemaikan (tentunya setelah diseleksi), dibersihkan dan kemudian dijemur namun hati-hati jangan terlalu kering. kemudian….. 
• Simpan selama 1 – 1.5 bulan. 
• Patahkan rimpang dengan tangan, yang mana setiap potongan tadi memiliki 3 – 5 mata tunas, kemudian dijemur kembali selama 1/2 sampai 1 hari (lihat cuaca). 
• Masukkan potongan rimpang tersebut ke dalam karung 
• Buat larutan PHEFOC HCS, dengan dosis : 1 tutup botol PHEFOC dilarutkan ke dalam 14 liter air, kemudian ditambah 2 sendok makan gula pasir, aduk sampai rata dan biarkan selama 15 menit. 
• Potongan rimpang yang sudah dalam karung kemudian dicelupkan ke dalam larutan PHEFOC selama 15 menit. Angkat dan tiriskan. Tujuan perendaman dengan PHEFOC adalah agar bibit terbebas dari patogen asal penyakit dan memiliki daya tahan lebih tinggi untuk mendapat serangan penyakit, ya mirip di-immunisasi dulu lah… 
• Selama menunggu proses ‘pe-nirisan’, buatlah larutan SOT HCS dengan dosis : 5 tutup botol SOT dilarutkan ke dalam 14 liter air, dan ditambahkan pula 3 sendok makan gula pasir. Aduk hingga rata dan biarkan selama 15 menit 
• Setelah cukup ditiriskan, bakal bibit tadi kemudian direndam selama kurang lebih 6 jam dalam larutan SOT HCS yang telah dibuat tadi. Tujuan perendaman dengan SOT adalah agar nantinya bibit dapat tumbuh dengan baik dan sehat terutama pada saat-saat awal penanaman 
• Setelah 6 jam, karung berisi benih tersebut kemudian ditiriskan sampai kering. Dan benih sudah siap untuk disemaikan. 

2. Teknik Penyemaian Rimpang Beberapa cara dapat dilakukan untuk penyemaian bibit jahe dari rimpang ini. Dengan menggunakan sistem kotak kayu atau dengan cara membuat bedengan. Kali ini saya ulas penyemaian dengan memakai kotak kayu. 
• Buat kotak kayu dengan ukuran misalnya 50 x 100 cm dengan tinggi 10 cm. Bentuknya seperti nampan. Tahu nampan kan ?
 • Buat campuran tanah untuk media semai dengan bahan campuran : tanah dan pupuk bokashi (lihat cara membuat Pupuk Bokashi), perbandingannya adalah tanah : pupuk bokashi = 3 : 1 
• Kemudian campuran tanah tersebut masukkan ke dalam kotak dan disebar secara merata 
• Benamkan potongan-potongan rimpang jahe ke dalam tanah tersebut. Kemudian tutup tipis dengan tanah atau daun kering 
• Lakukan perawatan dengan cara menyiram media semai tadi dengan air 2 kali sehari • Waktu yang dibutuhkan untuk penyemaian berkisar antara 2-4 minggu. Sabaar… Teknik Penanaman Jahe Teknik penanaman jahe berikut yang saya pilih adalah dengan memanfaatkan media tanam dalam polybag atau karung. Di sini saya memilih karung karena kebetulan mudah diperoleh dan murah, meskipun katanya rada-rada rapuh kalau sudah lama, tapi coba saja lah. 

Teknik memakai polybag atau karung ini banyak juga yang menyebut sebagai cara budidaya tanaman vertikultur, artinya budidaya tanaman secara vertikal atau bertingkat. 
1. Alat dan Bahan
 • Karung (disini saya memakai ukuran 40 x 100 cm), jumlah terserah anda. Saat ini saya siapkan 100 karung 
• Sekop atau cangkul, untuk mengaduk 
• Ember • Pupuk Bokashi 
• Tanah 2. Penanaman Bibit 
• Buat campuran antara tanah dan bokashi dengan perbandingan 3 : 1. 
• Masukkan campuran tanah tersebut ke dalam karung dengan ketinggian kurang lebih 15 cm atau 1/5 tinggi karung. Untuk memudahkan, sebelumnya tekuk dulu permukaan karung bagian atas. 
• Ambil rimpang jahe hasil penyemaian, patah-patahkan rimpang jahe tersebut dengan tangan menjadi 2-3 ruas, yang mana setiap ruas minimal terdapat 2 mata tunas 
• Bibit jahe kemudian ditanam 3-5 cm ke dalam tanah dalam karung tadi. Setiap karung dapat diisi beberapa titik tanam, atur misalnya 2 – 3 titik tanam. Rata-rata sih katanya kira-kira 200 gr bibit cukup untuk satu karung. 
• Atur penyimpanan karung posisinya lebih tinggi dari permukaan tanah. Buat kolom gundukan tanah memanjang, setiap gundukan kolom bisa diisi 2-3 baris karung.  

3. Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman Jahe Tahap berikutnya adalah perawatan dan pemeliharaan tanaman. Kegiatan ini meliputi penyiraman tanaman, pemberian pupuk dan penanggulangan penyakit • Pada tahap awal, lakukan penyiraman air secara teratur dan rutin pagi dan sore selama kurang lebih seminggu, bertujuan agar tunas tidak kering dan layu 
• Selanjutnya, penyiraman dilakukan sehari sekali kecuali pada kondisi kemarau sebaiknya penyiraman dilakukan dua kali 
• Pada usia tanaman 2 – 4 minggu lakukan penyemprotan atau penyiraman dengan fermentasi SOT. Sebelumnya lakukan fermentasi larutan dengan dosis : 5 tutup botol SOT + gula pasir 3 sdm + urine ternak 2 liter + feses ternak cair 2 liter. Fermentasi dilakukan selama 24 jam, kemudian larutkan dalam 15 liter air. Kemudian baru digunakan untuk menyemprot atau menyiram 
• Penyemprotan dengan SOT bergantian dengan PHEFOC dengan interval 2-4 minggu sekali 
• Pada usia 2-3 bulan atau jika terlihat keluar rimpang jahe ke permukaan, lakukan penimbunan dengan campuran tanah dan bokashi (perbandingan tanah : bokashi tetap 3 : 1). kurang lebih setinggi 10 cm 
• Selalu lakukan penyiangan media tanam dari hama berupa gulma/rumput agar tidak mengganggu pertumbuhan rimpang 
• Penimbunan dilakukan terus secara berulang sampai tanaman jahe berusia sekitar 8 bulan atau sampai karung terisi penuh dengan tanah 
• Rata-rata usia optimal penanaman jahe berkisar antara 8 – 10 bulan, ditandai dengan mulai mengeringnya daun 
• Dengan pola tanam seperti ini, diharapkan hasil panen jahe per karung mencapai minimal 10 kg Pengendalian Hama dan Penyakit Hama yang paling sering menyerang tanaman jahe adalah kepik, ulat penggesek akar dan kumbang. Sedangkan penyakit berupa penyakit layu bakteri, busuk rimpang, dan bercak daun. Untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman jahe merah ini, saya akan coba share dan ulas agak detail nanti di tulisan berikutnya…. 

Tentang Hama dan Penyakit yang sering menyerang tanaman jahe bisa dibaca DI SINI dan DI SINI Analisa Ekonomi Budidaya Tanaman Jahe merah Analisa ini saya lakukan secara praktis berdasarkan rencana penanaman pada 100 karung media tanam. Yang diperhitungkan adalah total biaya yang dikeluarkan meliputi modal awal dan biaya pemeliharaan dibandingkan dengan target pemasukan uang berdasarkan hasil penjualan tanaman jahe. 
1. Biaya yang saya keluarkan meliputi : 
• Karung : 100 karung x Rp. 600,- = Rp. 60.000,- 
• Pupuk Bokashi : = Rp. 50.000,-Karena saya belum mempunyai limbah ternak sendiri, jadi terpaksa saya beli dulu kotoran ternak. 
• Bibit Jahe : 100 karung x Rp. 1.000 = Rp.100.000,- 
• Pupuk SOT dan PHEFOC = Rp.250.000,- 
• Ongkos kerja : Gratis, kerjain aja dulu sendiri. Kalaupun minta bantuan, mungkin cukup keluar uang Rp.100.000 untuk pengerjaan membuat campuran tanah dan memasukkan ke dalam karung 
• Lain-lain atau tidak terduga = Rp.500.000,- 

TOTAL Biaya yang sudah dan akan saya keluarkan = Rp. 960.000,- 

2. Hasil Penjualan Jahe Merah Berdasarkan pengalaman di tempat lain dan informasi dari petani jahe merah yang sudah berjalan. Rata-rata hasil panen jahe merah per karung atau polybag dengan cara di atas dapat mencapai 10-15 kg/karung. Bahkan ada diantara salah seorang mitra HCS dapat mencapai produksi 20 kg/karung. Di sini, saya berandai-andai panen per karung anggap saja hanya mencapai 5 kg/karung. Jadi perkiraan total hasil panen 100 karung x 5 kg = 500 kg Harga per kg Jahe Merah memang fluktuatif dikisaran Rp.10.000 – Rp.15.000,- tergantung pembeli dan kualitas tentunya. Saya berandai lagi di sini, harga jual yang akan saya peroleh anggap saja rendah yaitu Rp. 6.000,-/kg (berdasar informasi pengepul minimal Rp.8.000,-/kg). 

• Hasil penjualan : 500 kg x Rp. 6.000 = Rp. 3.000.000,- Keuntungan atau laba : Rp. 3.000.000,- – Rp. 960.000,- = Rp. 2.040.000,- Parameter kelayakan usaha : B/C rasio : 3.125, atau anggap saja jelek-jeleknya di 2.0 B/C ratio menunjukkan angka di atas 1, ini menandakan usaha budidaya jahe merah masih termasuk layak. 

Gambaran Peluang Usaha Menurut analisa secara umum di atas, budidaya tanaman jahe merah dengan sistem organik HCS masih layak untuk dilakukan (Benefit Cost ratio 3.125). Karena masih layak, saya sekarang sedang merintis untuk membuktikan aplikasinya langsung, ya semoga saja lancar… Rencana saya malah akan melakukan penanaman setiap bulan sekali. Kenapa akan saya lakukan seperti itu ? Karena nantinya mulai pada 8 – 10 bulan mendatang, saya berharap bisa panen Jahe setiap bulan. Artinya, mudah-mudahan setiap bulan saya akan mendapat tambahan pemasukan uang minimal Rp. 2.040.000,-/bulan. Apabila prospeknya stabil dengan trend yang bagus, kemungkinan saya akan menambah jumlah media tanam lebih dari 100 karung, why not ? Kalau per karung butuh lahan 1 meter persegi, maka saya akan butuh minimal total 800 meter persegi. Masih kurang lahan ? Mungkin saya akan coba pola penyimpanan media tanam bertingkat. Why not II ? Targetnya adalah meningkatkan jumlah hasil panen per karungnya, dengan demikian meskipun harga relatif tetap, saya akan mendapat keuntungan lebih dari jumlah panen yang meningkat. Dan bagi anda yang memiliki lahan 1 (satu) are atau bahkan berhektar-hektar silahkan anda hitung sendiri potensi yang dapat dihasilkan. Jadi, bagaimana menurut anda ? Menanam Jahe Merah Mungkinkah Jadi Milyuner ? Jawaban saya sih mungkin saja, sejauh kita berani bekerja keras dan berusaha. Untuk tahap awal, tidak apa-apa lah saya rela jadi Jutawan dulu….hehe. Next, bukan hal yang tidak mungkin saya jadi seorang Milyuner sukses dari budidaya Jahe Merah !!

Senin, 28 April 2014

penegertian partenokarpi - putu eka irawan

Partenokarpi Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa Dalam botani, partenokarpi (harafiah berarti "buah perawan") merupakan gejala terbentuknya buah tanpa melalui proses pembuahan inti generatif terhadap sel telur. Gejala ini menunjukkan bahwa pembuahan merupakan salah satu, namun bukanlah satu-satunya, pemicu pembentukan buah. Bunga akan secara alami memproduksi hormon tumbuhan, yang diperlukan untuk mengawali proses pembentukan buah. Gejala partenokarpi dapat diamati pada pisang, ketimun, terong, nanas, pir, sukun, jambu-jambuan, dan sejumlah tumbuhan budidaya lainnya. Semangka tanpa biji juga produk dari gejala ini. Partenokarpi biasanya disukai di kalangan hortikultura karena menghasilkan buah tanpa biji atau berbiji lunak. Partenokarpi bukanlah gejala yang dapat disejajarkan dengan partenogenesis pada hewan. Gejala apomiksis pada tumbuhanlah yang lebih tepat sebagai gejala yang paralel.

Minggu, 20 April 2014

Tugas Individu DDA “OKULASI” Disusun oleh : NAMA : PUTU EKA IRAWAN NIM : G111 13 513 KELAS : B PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014 PELAKSANAAN OKULASI PADA KEBUN INDUK KAKAO Sumber Gambar: http://afandypoltek.wordpress.com Bahan Okulasi tanaman kakao berasal dari 2 (dua) jenis cabang yaitu ortotrop dan plagiotrop. Tanaman yang dihasilkan dari okulasi tunas ortotrop pada umumnya habitus baik , tanaman berjorget, tanaman tinggi besar dan percabangan teratur serta lebih lambat berbunga/berbuah. Sedangkan tanaman yang dihasilkan dari okulasi tunas plagiotrop pada umumnya habitus pendek, percabangan mulai dari permukaan tanah dan tanaman cepat berbuah. Faktor penting pada okulasi. Batang bawah: Batang bawah harus dalam pertumbuhan yang aktif, yang ditandai dengan adanya daun muda (flush). Sel-sel kulit batang bawah harus cukup mengandung air sehingga tidak terjadi kerusakan sel pada saat okulasi. Oleh karena itu sebaiknya okulasi dilakukan pada saat kandungan air tanah cukup. Entres kayu (kayu olulasi): Entres harus bermutu baik yaitu berwarna coklat (tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda), dan mata dalam keadaan baik (nampak jelas). Ketrampilan tenaga okulasi: Potongan mata okulasi dengan sayatan batang bawah harus serasi. Disamping itu luka sayatan dan potongan mata okulasi harus diusahakan agar tidak membuka terlalu lama. Cara mengokulasi. Okulasi Ortotrop. - Pilih cabang-cabang ortotrop yang telah memenuhi syarat, ambil dengan hati-hati , hindarkan dari luka dan terkena suhu tinggi, tangkai daun dipotong 1.5-2 cm - Batang bawah yang sudah berumur ± 1 tahun diokulasi dengan mata entres yang dikehendaki, kulit batang bawah ditarik dengan pisau okulasi selebar 0.7 mm dan panjang 3-4 cm dibuka dari bawah ke atas. - Mata okulasi disiapkan dengan cara menyayat mata bersama sedikit bagian kayu tempat mata tersebut menempel. - Kayu dilepas dengan hati-hati dari bagian ujung, lalu kulit dipotong seukuran bukaan batang bawah. - Mata okulasi secepat mungkin ditempelkan pada bukaan batang bawah yang masih segar. Permukaan kambium hindarkan dari sentuhan tangan agar tidak terkontaminasi kotoran. Ikatlah dengan tali rafia dari bawah ke atas. Dengan susunan seperti genteng. Pada musim hujan, tali okulasi dapat ditutup degan parafin yang dicairkan. - 14 hari setelah pelaksanaan, apabila mata okulasi tetap berwarna hijau berarti okulasi jadi/berhasil. Apabila okulasi tidak jadi maka segera diulang pada sisi yang berlawanan. - Kemudian dilakukan pengeratan batang bawah pada jarak 5-6 cm di atas tempelan. Satu minggu setelah mata membengkak (metir) , batang bawah dilengkungkan, dan empat bulan kemudian batang bawah dipotong. - Batang klonal yang tumbuh dari mata entres dirundukkan agar tumbuh tunas ortotrop dan dari tunas yang tumbuh ini selanjutnya dipelihara 2 tunas ortotrop. - Setelah 6 bulan, batang klonal pertama dipotong selanjutnya dipelihara 2 tunas ortotrop dan tunas ini terus dipelihara selama 6 bulan (misal tunas A dan B). - Selanjutnya tunas A dipotong setinggi 20 cm dan dari tunas A ini dipelihara tunas A1 dan A2 kemudian menyusul tunas B untuk dipelihara tunas B1 dan B2. - Empat tunas dari A dan B tersebut kemudian dipelihara dan tanaman siap menghasilkan kayu okulasi/entres. Okulasi Plagiotrop. - Ranting calon kayu okulasi diambil dengan hati-hati, jangan sampai terluka dan terkena suhu tinggi. Tangkai daun dipotong 1.5-2.0 cm. - Batang bawah dipilih dari bibit yang tumbuh sehat, umur ± 4 bulan , diameter batang ± 7 mm. Kulit batang bawah ditarik dengan pisau okulasi selebar 0.7 mm dan panjang 3-4 cm, dibuka dari bawah ke atas (di bawah kotiledon) - Sayatlah mata okulasi bersama sedikit bagian kayu tempat mata menempel. Selanjutnya kayu dilepas dengan hati-hati dari bagian ujung, lalu kulit dipotong seukuran bukaan batang bawah. - Mata okulasi dihindarkan tersentuh tangan agar tidak terkontaminasi kotoran. Ikat dengan talim rafia dari bawah ke atas dengan susunan seperti genteng. Pada musim hujan tali okulasi dapat ditutup dengan parafin yang dicairkan. - Setelah 14 hari, bila okulasi berhasil maka mata okulasi tetap hijau. Bila gagal maka segera diulang pada sisi yang berlawanan. Okulasi yang berhasil dilakukan pengeratan batang bawah pada jarak 5-6 cm di atas tempelan. Satu minggu setelah mata membengkak (metir) batang bawah dilengkungkan. - Setelah tunas okulasi berdaun 5-6 lembar, batang bawah dipotong di atas pertautan, kemudian tunas baru dirawat dengan baik, hindarkan dari serangan hama atau penyakit. Pemupukan dan penyiraman bibit dilakukan sebagaimana lazimnya. - Pertumbuhan tunas okulasi diarahkan ke atas, diberi tajar yang panjangnya 50-60 cm - Selama okulasi tidak boleh ada tunas-tunas air/wiwilan yang tumbuh - Bibit hasil okulasi siap dipindahkan ke kebun setelah berumur 8-9 bulan, panjang tunas ± 30 cm dan jumlah daun lebih dari 12 lembar. Dua minggu sebelum bibit dipindahkan, polibag diputar untuk memutus perakaran yang menembus tanah.

Sabtu, 12 April 2014

BAGIAN-BAGIAN BUNGA DAN FUNGSINYA

Pengertian Bunga Perhatikan gambar di samping! Bunga lengkap memiliki bagian-bagian sebagai berikut. Tangkai Bunga, Tangkai bunga merupakan bagian yang berada pada bagian bawah bunga. Tangkai ini berperan sebagai penopang bunga dan sebagai penyambung antara bunga dan batang atau ranting. Kelopak Bunga, Kelopak bunga merupakan bagian yang melindungi mahkota bunga ketika masih kuncup. Biasanya, bentuk dan warnanya menyerupai daun. Mahkota Bunga, Mahkota bunga umum nya memiliki warna bermacam-macam sehingga disebut perhiasan bunga. Warna yang menarik itu berguna untuk memikat kupu-kupu atau serangga lainnya agar hinggap pada bunga. Serangga tersebut dapat dalam proses penyerbukan. Benang sari dengan serbuk sari sebagai alat kelamin jantan. Putik terdapat di bagian tengah-tengah bunga. Biasanya, putik dikelilingi oleh benang sari. Putik berfungsi sebagai alat kelamin betina. Putik terdiri atas kepala putik dan tangkai putik. Dasar dan tangkai bunga sebagai tempat kedudukan bunga. Bunga yang memiliki tangkai, kelopak, mahkota, benang sari, dasar bunga, dan putik disebut bunga sempurna. Jika memiliki semua bagian kecuali putik, maka disebut bunga jantan. Jika memiliki semua bagian kecuali benang sari, maka disebut bunga betina. Bunga yang memiliki benang sari dan putik disebut bunga hermafrodit.

Kamis, 10 April 2014

MAKALAH HASIL PRODUK BIOTEKNOLOGI PERTANIAN

KULTUR JARINGAN (Makalah Hasil Bioteknologi Pertanian) Oleh PUTU EKA IRAWAN (G111 13 513) PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2014 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dengan meningkatnya pengetahuan teknologi yang terus-menerus maju, dari pembibitan tanaman yang di mulai dengan biji berlanjut ke pemilihan biji yang terbaik dan bertambah maju lagi dengan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Berbagai macam dilakukan manusia untuk memperoleh suatu hasil yang baik dan memuaskan. Tingkat teknologi yang mendukung serta pengetahuan manusia yang semakin tinggi juga membawakan manfaat bagi petani terutam untuk pertanian dengan areal yang begitu besar. Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. jadi, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya.Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila menggunakan jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda, yaitu jaringan yang terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis, plasmanya penuh dan vakuolanya kecil-kecil. Kebanyakan orang menggunakan jaringan ini untuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem keadaannya selalu membelah, sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon yang mengatur pembelahan. B. TUJUAN Adapun dengan di buatnya makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Memahami pengertian kultur jaringan 2. Mempelajari cara kultur jaringan yang baik dan benar 3. Belajar mensterilisasi alat untuk pembiakan kultur jaringan 4. Menerapkan kultur jaringan di kehidupan II . TINJAUAN PUSTAKA A. Pengergtian Kultur Jaringan Kultur jaringan berasal dari kata asing tissue culture, kultur yaitu beberapa jaringan yang memiliki bentuk yang sama kultur jaringan bisa dibilang membudidayakan tanaman dengan bagian jaringan tumbuhan tersebut yang bisa sama dengan induknya. Kultur jaringan ini lebih baik jika menggunakan jaringan meristem pada tumbuhan atau jaringan tumbuhan yang muda, yaitu jaringan yangterdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis, plasmanya penuh dan vakuolanya kecil-kecil. Karena jaringan meristem memiliki tugas selalu membelah dirinya jadi di pastikan memiliki hormon yang untuk mengatur pembelahan. Kultur jaringan merupakan salah satu perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan cara perbanyakana tanaman dengan cara mengisolasi bagian taaman seperti daun, mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagiannya didalam mediabuata secara aseptik yang banyak nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat diperbanyak dan menjadi tanaman yang sempurna. Kultur jaringan ini diadakan agar memepermudah pembibitan tanaman yang khususnya pada pada tanaman yang secara geratif dalam pembiakanya. Dengan kultur jaringan ini mempermudah dalam mengahsilkan suatu tanaman dan mencari anakan yang bisa sama dengan induknya Kultur jaringan juga mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. B. Tahapan yang dilakukan Dalam Kultur Jaringan Didalam melakukan Kultur Jaringan ada tahap-tahap yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut: 1. Pembuatan Media Media merupakan faktor penetu dalam keberhasilan suatu budidaya pada kultur jaringan karena medialah tempat yang menjadi pertumbuhannya tanaman. Komposisi media yang digunakan tergantung jenis tanaman yang akan ditanam. Komposisi yang digunakan antaralain: 1. Ammonium nitrate (NH4NO3) 1,650 mg/l 2. Boric acid (H3BO3) 6.2 mg/l 3. Calcium chloride (CaCl2 • H2O) 440 mg/l 4. Cobalt chloride (CoCl2 • 6H2O) 0.025 mg/l 5. Magnesium sulfate (MgSO4 • 7H2O) 370 mg/l 6. Cupric sulfate (CuSO4 • 5H2O) 0.025 mg/l 7. Potassium phosphate (KH2PO4) 170 mg/l 8. Ferrous sulfate (FeSO4 • 7H2O) 27.8 mg/l 9. Potassium nitrate (KNO3) 1,900 mg/l 10. Manganese sulfate (MnSO4 • 4H2O) 22.3 mg/l 11. Potassium iodine (KI) 0.83 mg/l 12. Sodium molybdate (Na2MoO4 • 2H2O) 0.25 mg/l 13. Zinc sulfate (ZnSO4 • 7H2O) 8.6 mg/l 14. Na2EDTA • 2H2Oa 37.2 mg/lb Media yang digunakan dapat berupa garam vitamin, mineral, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. 2. Inisiasi Inisiasi merupakan pengambilan eksplan/inokulum dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan jaringan adalah tunasnya. Inokulum dapat diambil dari potongan yang berasal dar kecambah atau jaringan tanaman dewasa yang mengandung jaringan meristem. 3. Sterilisasi Sterilisasi merupakan kegiatan dikultur jaringan untuk pengupayan bebas dari kontaminan dari luar yang kiranya dapat mengganggu pertumbuhan pada kultur jaringan. Sterilisai biasanya dengan menggunakan penyemprotan dengan etanol. Dalam kultur jaringan harus selalu steril baik diluar maupun di dalam. 4. Multiplikasi Multiplikasi merupakan kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Perlakuannya dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan dalam keadaan steril dengan suhu kamar. 5. Pengakaran Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). 6. Aklimatisasi Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat C. Keuntungan dan Kerugian Kultur Jaringan Keuntungan yang diperoleh dari kultur jaringan yaitu: 1. Pengadan bibitnya tidak tergantung musim 2. Bibit dapat diproduksi dalam jumlah yang banyak dalam waktu cepat. 3. Bibit yang dihasilkan seragam 4. Bibit yang dihasilkan bebas penyakit 5. Biaya pengangkutannya lebih murah 6. Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit dan pengaruh lingkungan. 7. Metabolit sekunder tanaman cepat dapat diketahui tanpa menunggu tanaman dewasa. Kerugian dari kultur jaringan yaitu: 1. Merupakan cara kultur jaringan adalah cara kultur yang dinilai mahal dan sulit. 2. Membutuhkan biaya yang tinggi untuk perlatan dan perlengkapanya. 3. Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan 4. Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh III. KESIMPULAN Dari wacana yang ada didalam makalah ini didapat kesimpulan sebagai berikut: 1. Kultur jaringan merupakan perbanyakan tanaman yang dihasilkan dari bagian jaringan tumbuhan yang menghasilkan tumbuhan sama dengan induknya. 2. Tahapan dalam kultur jaringan yaitu: menyiapkan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran dan aklimatisasi. 3. Dalam melakukan kultur jaringan perlu diperhatikan sterilisasinya agar tidak ada kontaminan yang dapat mengganggu kultur jaringan. 4. Kultur jaringan dapat mempermudah, memperbanyak, dan mempecepat suatu tanaman yang sama dengan induknya atau sesuai keinginannya.   DAFTAR PUSTAKA Gunawan, L.W. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor, Bogor Smith, R.H. 2000. Plant Tissue Culture: Techniques and Experiments. Academic press, London. Taji, A., Dodd, W., Williams, R.R. 1997. Plant Tissue Culture Practice. University of New England, Armidale, NSW, Australia http://id.wikipedia.org/wiki/Kultur_jaringan, di akses paada tanggal 10 April 2012, pukul 16:35 http://nicedaysblue.web.id/index.php/my-project/39-science-and-tech/62-kultur-jaringan, di akses paada tanggal 10 April 2012, pukul 16:36 http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081029045234AAwuqCD, di akses paada tanggal 10 April 2012, pukul 16:45

apakah pendapat anda tentang blog ini?

RAMALAN CUACA

pendaftaran FMA

Powered byEMF HTML Contact Form

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Recent Posts

Social Media Sharing by CB Bloggerz

facebook

twitter